Kamis, 16 Juni 2011
Dewasa ini telah dikembangkan teknik komunikasi perubahan perilaku masyarakat secara spesifik yaitu komunikasi perubahan perilaku (KPP)/ Communication for Behavior Impact (COMBI) yang dapat menjadi salah satu upaya pengendalian DBD di Indonesia.
Untuk penerapan metode KPP/ COMBI tersebut diperlukan dukungan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan yang memadai melalui pelatihan disetiap administrasi.
Diharapkan buku ini dapat menjadi bahan untuk pelatihan KPP?COMBI serta bermanfaat dan dapat digunakan oleh pengelola program dalam upaya pencegahan DBD di Indonesia.

Buku ini dapat kamu miliki Download disini
Jangan lupa kasih komentar anda.....
Dengan Program berbasi CDROMs ini dapat membantu anda untuk memahami bagaimana menyusun kurikulum yang berbasis pengetahuan dan kurikulum berbasis kompetensi, semaoga CDROMs ini sangat membantu anda dalam meningkatkan kinerja anda di institusi tempat anda bekerja.
Silahkan Download Disini dan jangan lupa kasih komentar anda.....
Buku digital berbasis CDROMs ini sangat baik buat para pemimpin belajar untuk membuat atau menyusun visi dan misi di tempat anda bekerja baik institusi swasta maupun pemerintahan...
Silahkan download disini
jangan lupa kasih komentar anda.
Sebagai penanggung jawab pembangunan kesehatan di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Namun, upaya tersebut masih terus ditingkatkan.


Untuk mempercepat pencapaian sasaran-sasaran pembangunan kesehatan di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah melakukan terobosan melalui berbagai upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Satu di antaranya adalah Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). BOK diharapkan dapat berkontribusi meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat, utamanya melalui kegiatan promotif dan preventif, sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan dengan fokus pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015.

Latar Belakang
  • Untuk mendukung pencapaian SPM dalam upaya memepercepat pencapaian target MDGs perlu kerja keras secara menyeluruh dari pusat sampai tingkat akar rumput.
  • Pendekatan untuk percepatan; Insensifikasi, ekstensifikasi, inovasi, dan diperlukan perubahan (reformasi) yang lebih sistematis dan mendasar dalam sistem upaya kesehatan secara nasional
  • Biaya operational untuk penyelenggaraan upaya kesehatan primer tersebut sangat kecil
  • Kemampuan perencanaan di puskesmas melalui Lokakarya Mini terbatas
  • Oleh karena itu perlu terobosan dalam hal pembiayaan antara lain dalam bentuk BIAYA OPERATIONAL untuk memperlancar kinerja puskesmas guna mendukung pencapaina target MDGs
Definisi BOK
Adalah bantuan dana dari pemerintah melalui Kementrian Kesehatan dalam membantu pemerintahan Kabupaten/ kota melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan dengan fokus pencapaian terget Millenium Development Goals (MDGs) melalui peningkatan kinerja puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan Promotif dan Preventif.

Tujuan
Umum; Meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat utamanya kegiatan promotif dan preventif untuk mewujudkan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang kesehatan dengan fokus pencapaian target Milennium Development Goals (MDGs) pada tahun 2015.
Khusus; Meningkatkan cakupan puskesmas dalam pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif, Tersedianya dukungan biaya untuk upaya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif bagi masyarkat, terselenggaranya proses Lokakarya Mini di Puskesmas dalam perencanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Lebih lengkapnya silahkan download disini,
jangan lupa kasih komentarnya
Buku ini mendapatkan International Best Seller...
Sebuah cerita yang sangat menarik untuk kita pahami bersama...
Jangan lupa Beri komentar kamu ...............
Sabtu, 11 Juni 2011
Konjungtivitis

DEFINISI

Konjungtivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva. Konjungtivitis gonokokal bayi baru lahir bisa mendapatkan
infeksi gonokokus pada konjungtiva dari ibunya ketika melewati jalan lahir. Karena itu setiap bayi baru lahir mendapatkan
tetes mata (biasanya perak nitrat, povidin iodin) atau salep antibiotik (misalnya eritromisin) untuk membunuh bakteri
yang bisa menyebabkan konjungtivitis gonokokal. Dewasa bisa mendapatkan konjungtivitis gonokokal melalui hubungan
seksual (misalnya jika cairan semen yang terinfeksi masuk ke dalam mata). Biasanya konjungtivitis hanya menyerang
satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa
terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa
diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik.

PENYEBAB
Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat: infeksi olah virus atau bakteri reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari,
bulu binatang iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari
yang dipantulkan oleh salju. Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:
* Entropion atau ektropion
* Kelainan saluran air mata
* Kepekaan terhadap bahan kimia
* Pemaparan oleh iritan
* Infeksi oleh bakteri tertentu (terutama klamidia).
Pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

Pengertian Amputasi

Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”.
Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.
Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.
Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi
Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi :
1.      Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki.
2.      Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.
3.      Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat.
4.      Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya.
5.      Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif.
6.      Deformitas organ.
Sifilis adalah penyakit menular seksual dapat disembuhkan yang disebabkan oleh Treponema pallidum spirochete. Rute penularan sifilis hampir selalu melalui hubungan seksual. Namun, ada contoh sifilis kongenital melalui penularan dari ibu ke anak di dalam rahim
Produk Komposisi:
Komponen:  
  • SD BIOLINE Sifilis 3.0 perangkat uji / multi-device / strip 
  • Assay pengencer
  



 


Sebuah pesat dalam immunoassay vitro kualitatif untuk mendeteksi antibodi terhadap Treponema pallidum, begitu mudah dapat digunakan di tingkat terendah pelayanan kesehatan

     Cepat
     Jelas, hasil diandalkan dalam 15 menit
     Pasien dapat diuji dan diobati dalam kunjungan yang sama
     Prosedur sederhana
     Langkah 1, tambahkan 50μl sampel untuk pad. Jika menggunakan seluruh darah, tambahkan buffer mengejar.
     Langkah 2, tunggu 15 menit, kemudian membaca hasilnya.
     Dua merah bar = positif. Satu bar merah di jendela kontrol = negatif.
     (Tidak bar merah di jendela kontrol berarti tes tidak valid.)
     Membutuhkan minimal pelatihan dan peralatan tidak
     Fleksibel
     Bisa menggunakan seluruh darah atau serum / plasma
     Koleksi bisa dengan fingerstick atau venipuncture
     Mudah untuk mengangkut dan menyimpan
     Tidak pendinginan diperlukan
     Kondisi penyimpanan 2-30 ° C
     Tidak ada sumber listrik atau air yang dibutuhkan untuk menjalankan pengujian


Untuk tes malaria lihat disini 
Tes Malaria
Malaria adalah penyakit serius, terkadang fatal/mematikan, yang ditandai demam tinggi, menggigil dan gejala seperti influenza. Penyakit ini ditularkan dari penderita ke individu yang sehat melalui gigitan nyamuk Anopheles.
Saat ini penyakit malaria telah tersebar di lebih dari 90 negara di seluruh dunia dan diduga lebih dari 500 juta kasus klinik dan 2,7 juta kasus per tahun menyebabkan kematian. Dari jumlah kematian tsb, 75% merupakan anak–anak Afrika. Infeksi akibat P. falciparum, apabila tidak segera ditangani akan berakibat fatal.

Informasi Umum
Tes SD BIOLINE Malaria Ag Pf/Pan suatu tes kualitatif cepat, untuk membedakan dan deteksi HRP-II (Histidine-rich protein II) yang spesifik terhadap P. falciparum dan pLDH (Plasmodium lactate dehydrogenase) spesifik terhadap Plasmodium yang lain dalam darah manusia.


Fitur Produk:
SD BIOLINE Ag Malaria Pf / tes Pan adalah uji satu langkah, cepat, kualitatif dan diferensial untuk mendeteksi HRP-II (II protein Histidin-kaya) khusus untuk P. falciparum dan pLDH (Plasmodium dehidrogenase laktat) Pan khusus untuk P. spesies dalam sampel darah manusia.


 Asuhan keperawatan pada pasien Gout/Pirai
Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada sendi dan jari.
Patofisiologi
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang mengandung asam urat tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adequat akan menghasilkan akumulasi asam urat yang berlebihan di dalam plasma darah (Hiperurecemia), sehingga mengakibatkan kristal asam urat menunpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan respon inflamasi.

Hiperurecemia merupakan hasil:
-         meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal
-         menurunnya ekskresi asam urat
-         kombinasi keduanya
Gout sering menyerang wanita post menopouse usia 50 – 60 tahun. Juga dapat menyerang laki-laki usia pubertas dan atau usia di atas 30 tahun. Penyakit ini paling sering mengenai sendi metatrsofalangeal, ibu jari kaki, sendi lutut dan pergelangan kaki.

Pengkajian Keperawatan
Riwayat Keperawatan
-         Usia
-         Jenis kelamin
-         nyeri (pada ibu jari kaki atau sendi-sendi lain)
-         kaku pada sendi
-         aktivitas (mudah capai)
-         diet
-         keluarga
-         pengobatan
-         pusing, demam, malaise, dan anoreksi
-         takikardi
-         pola pemeliharaan kesehatan
-         penyakit batu ginjal
BATASAN
Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, dan akibatnya gagal jantung.

PENYEBAB KEGAGALAN
-         Disritmia (bradikardi,tachicardi)
-         Malfungsi katub (stenosis katub pulmonal/aortik)
-         Abnormalitas otot jantung (kardiomiopati, aterosklerosis koroner)
-         Angina pectoris, berlanjut infark miocard akut.
-         Ruptur miokard

RESPON TERHADAP KEGAGALAN
A.     Peningkatan tonus simpatis
Peningkatan sistem saraf simpatis yang mempengaruhi arteri vena jantung. Akibatnya meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan peningkatan kontraksi. Tonus simpatis membantu mempertahankan tekanan darah normal.
B.     Retensi air dan natrium
Bila ginjal mendeteksi adanya penurunan volume darah yang ada untuk filtrasi, ginjal merespon dengan manahan natrium dan air dengan cara demikian mencoba untuk meningkatkan volume darah central dan aliran balik vena.
            A.     Pengertian
Berikut ini ada beberapa pengertian gagal ginjal kronik menurut beberapa literatur yang penulis gunakan, yaitu :
Gagal ginjal kronik adalah penurunan semua fungsi yang bertahap diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (Mary E. Doengoes, 2000).

Gagal ginjal kronik adalah suatu proses penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya pada suatu derajat memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap berupa dialisis dan transplantasi ginjal (Aru A. Sudoyo, 2006).

Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan reversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia (Suzanne C.Smeltzer, 2001).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Gagal ginjal kronik adalah gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible, diikuti penimbunan sisa metabolisme protein dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia.

B.     Patofisiologi
Penyebab dari gagal ginjal kronik biasanya dipengaruhi oleh penyakit sistemik seperti diabetes melitus, glumerulonefritis, pielonefritis, hipertensi yang tidak dikontrol, obtruksi traktus urinarius, penyakit ginjal polikistik, infeksi dan agen toksik. fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya dieksresikan kedalam urine) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh, semakin banyak yang timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berarti dan akan membaik setelah dialisis. Banyak permasalahan yang muncul pada ginjal sebagai akibat dari penurunan glomeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan clearens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal.

Perjalanan penyakitnya dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu :
- Stadium I (Penurunan cadangan ginjal).
Fungsi ginjal antara 40 % - 75 %, pada stadiusm ini kreatinin serum dan kadar urea dalam darah (BUN) normal, pasien asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal hanya dapat terdeteksi dengan memberi kerja yang berat pda ginjal tersebut, seperti tes pemekatan urine yang lama atau dengan mengadakan tes Glomerolus Filtrasi Rate (GFR) yang teliti.

- Stadium II (Insufisiensi ginjal)
Fungsi ginjal antara 20 – 50 %, pada tahap ini kadar BUN baru mulai meningkat melebihi kadar normal. Timbul gejala – gejala nokturia (pengeluaran urine pada waktu malam hari yang menetap samapai sebanyak 700 ml, dan poliuria (peningkatan volume urine yang terus menerus). Poliuria pada gagal ginjal lebih besar pada penyakit terutama menyerang tubulus, meskipun poliuria bersifat sedang dan jarang lebih dari 3 liter/hari.
- Stadium III (Uremi gagal ginjal).
Fungsi ginjal kurang dari 10 %, pada stadium akhir sekitar 90 % dari massa nefron telah hancur, taua hanya sekitar 200.000 nefron yang masih utuh. Nilai GFR hanya 10 % dari keadaan normal, kreatinin sebesar 5 – 10 ml per menit atau kurang. Gejala – gejala yang timbul cukup parah anatara lain mual, muntah, nafsu makan berkurang, sesak nafas, pusing atau sakit kepala, air kemih berkurang, kurang tidur, kejang – kejang dan akhirnya terjadi penurunan kesadaran sampai koma. Penderita akan mengalami oliguria (pengeluaran urine kurang dari 500 ml) karena kegagalan glomerulus meskipun proses penyakit mula – mula menyerang tubulus ginjal.

Manifestasi klinis dari gagal ginjal kronik adalah pada sistem gastrointestinal yaitu anoreksia, nausea, vomitus, nafas bau amonia, stomatitis, parotitis, cegukan, gastritis erosif, ulkus peptik dan kolitis uremik. Sistem kardiovaskuler : hipertensi, myeri dada, dysritmia, udem, sesak nafas, bibir cyanosis. Sistem neuromuskuler : rasa pegal pada tungkai bawah, rasa semutan dan seperti terbakar terutama pada telapak kaki, gangguan tidur, tremor, kejang – kejang. Sistem endokrin : gangguan seksual seperti libido, fertilitas, dan ereksi menurun, amenorea, gagguan toleransi glukosa, gangguan metabolisme lemak dan Vit. D. Sistem hematologik : anemia, gangguan trombosit, gagguan fungsi leukosit. Sistem pernafasan : dsypneu, kusmaul. Komplikasi yang sering terjadi pada klien dengan gagal ginjal kronis adalah hiperkalemia, hipertensi, anemis, asidosis metabolik, malnutrisi, uremia, gagal jantung dan penyakit tulang.
A.  Pengertian
Sirosis Hepatis adalah penyakit kronis hati akibat tersumbat saluran empedu serta pus sehingga timbul jaringan baru yang berlebihan yang tidak berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut ( Brunner and Suddarth ).

Sirosis Hepatis adalah Ditandai dengan adanya lokus peradangan ,daerah –daerah yang beregenerasi dan penumpukan jaringan ikat yang di fus. (www.google.co.id ) tanggal 15 Juli 2007.

Sirosis Hepatis adalah Penyakit hati yang di karakteriskan oleh gangguan struktur dan perubahan degenerasi gangguan fungsi selular dan selanjutnya aliran darah ke hati.
( Marillyn E. Doengoes 1999 )

Sirosis Hepatis adalah Penyakit menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. ( Soeparman 1996 )

Dari beberapa pengertian diatas penulis menarik kesimpulan bahwa Sirosis Hepatis adalah Penyakit kronis menahun ditandai dengan adanya  gangguan struktur hati yaitu timbulnya jaringan baru yang berlebihan dan tidak saling berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut serta gangguan aliran darah ke hati.

B.  Patofisiologi
Etiologi timbulnya Sirosis Hepatis melibatkan beberapa faktor penyebab yaitu konsumen minuman alkohol,defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein ,Riwayat penyakit Hepatitis dan peradangan pada saluran empedu, cholestasis kronik intra, obstruksi aliran vena hepatic ( gagal jantung kanan ), kelainan metabolisme dan DM. Awal penyakit sirosis hepatis adalah timbul peradangan hati , hati cenderung membesar menjadi keras dan timbul nyeri di abdomen. Jika hal ini berlangung terus menerus ukuran hati akan berkurang akibatnya timbul jaringan parut atau nekrosis hati. Dengan adanya  nekrosis hati akan terjadi peningkatan tekanan vena vortal yang menimbulkan dilatasi pada vena tubuh bagian atas dan ekstremitas bawah seperti vena esopage, vena para umbilikalis, vena hemoroidalis sehingga darah akan mengalir dan berkumpul pada vena – vena tersebut. Jika hal ini terus berlanjut maka vena-vena tersebut akan pecah dan terjadi pendarahan atau varises esofagus, hemoroid, Kaput modusa atau penonjolon umbilikalis. Adanya gangguan aliran darah balik vena tersebut maka dapat timbul tanda & gejala yaitu 1). Secara manifestasi dini seperti demam,nyeri timbul atau perasaan berat pada kuadran kanan atas ( 50 % penderita ), hati keras dan mudah teraba,  mual, muntah dan tidak nafsu makan, penurunnan berat badan, kelemahan, diare, konstipasi. 2 ) Manifestasi lanjut seperti kegagalan sel hati dan hpertensi vorta.                    Serta terjadi penurunan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak di hati yang dapat menimbulkan ascites, splenomegali, hidrothork, edema, ikterus, anemia serta feces berwarna pecat, perdarahan,impotensi, spide naevi, eritema palmalis,ginekomastia. Jika penyakit ini terus berlanjutakan menimbulkan komplikasi seperti Perdarahan gastrointestinal, hipertensi portal meimbulkan varises oesopagus, koma hepatikum, ulkus peptikum, karsinoma hepatosellural, infeksi, ensephalopati hepatika, ascites dan kematian.
A.     Pengertian
Labio palatoshcizis atau sumbing bibir langitan adalah cacat bawaan berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit (Fitri Purwanto, 2001).
Labio palatoshcizis merupakan suatu kelainan yang dapat terjadi pada daerah mulut palato shcizis (sumbing palatum) labio shcizis (sumbing  pada bibir) yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio (Hidayat, 2005).
Labio palatoschizis adalah merupakan congenital anomaly yang berupa adanya kelainan bentuk pada wajah  ( Suryadi SKP, 2001).
Berdasarkan ketiga pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa labio palatoschizis adalah suatu kelainan congenital berupa celah pada bibir atas, gusi, rahang dan langit-langit yang terjadi akibat gagalnya perkembangan embrio.

B.     Patofisiologi
Penyebab utama bibir sumbing karena kekurangan seng dan karena menikah/kawin dengan saudara/kerabat. Bagi tubuh, seng sangat dibutuhkan enzim tubuh. Walau yang diperlukan sedikit, tapi jika kekurangan berbahaya. Sumber makanan yang mengandung seng antara lain : daging, sayur sayuran dan air. Di NTT airnya bahkan tidak mengandung seng sama sekali. Soal kawin antara kerabat atau saudara memang menjadi pemicu munculnya penyakit generatif, (keterununan) yang sebelumnya resesif. Kekurangan gizi lainya seperti kekurangan vit B6 dan B complek. Infeksi pada janin pada usia kehamilan muda, dan salah minum obat obatan/jamu juga bisa menyebabkan bibir sumbing.

Proses terjadinya labio palatoshcizis yaitu ketika kehamilan trimester I dimana terjadinya gangguan oleh karena beberapa penyakit seperti virus. Pada trimester I terjadi proses perkembangan pembentukan berbagai organ tubuh dan pada saat itu terjadi kegagalan dalam penyatuan atau pembentukan jaringan lunak atau tulang selama fase embrio.

Apabila terjadinya kegagalan dalam penyatuan proses nasal medical dan maxilaris maka dapat mengalami labio shcizis (sumbing bibir) dan proses penyatuan tersebut akan terjadi pada usia 6-8 minggu. Kemudian apabila terjadi kegagalan penyatuan pada susunan palato selama masa kehamilan 7-12 minggu, maka dapat mengakibatkan sumbing pada palato (palato shcizis).
A.     Pengertian
Hernia adalah suatu penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui lubang congenital atau didapat (Junadi, dkk 1982).
Hernia adalah defek dalam dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen (seperti peritoneum, lemak, usus, atau kandung kemih) memasuki defek tersebut sehingga timbul kantong berisikan materi abnormal (Tambayong, 2000).
Hernia adalah prostrusi dari organ melalui lubang defektif yang didapat atau congenital pada dinding rongga yang secara normal berisi organ (Engram, 1999).
Hernia Inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum,  disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat
congenital. (Betz, 2002)

Dari beberapa pengertian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa hernia inguinalis adalah suatu penonjolan keluar sebagian atau seluruh organ dalam abdomen ke bagian kantong terbuka (canal inguinalis) yang disebabkan karena penutupan tuba yang tidak lengkap antara abdomen dan skrotum.

B.     Patofisiologi
Hernia kebanyakan diderita oleh orang-orang yang berusia lanjut karena pada usia rentan tersebut dinding otot yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada tempatnya sehingga mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti mengangkat barang-barang yang terlalu berat. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik, obesitas dan bawaan lahir (congenital). Hernia terjadi jika bagian dari organ perut (biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya.

        A. Pengertian
Osteomielitis adalah infeksi pada jaringan tulang tulang dan dapat bersifat akut maupun kronis (Price, 2002).
Osteomielitis merupakan infeksi pada tulang yang lebih sulit disembuhkan daripada infeksi pada jaringan lunak karena terbatasnya asupan darah, respon jaringan terhadap infeksi, tingginya tekanan jaringan dan pembekuan involukrum (pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati) (Smeltzer, 2002)
Osteomielitis adalah infeksi tulang panjang yang disebabkan oleh infeksi lokal akut atau trauma tulang, biasanya disebabkan oleh E. Coli, Stapilococcus Aurius atau Streptococcus Pyogenes. (Tucker, 1998)
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran infeksi dari darah. (Corwin, 1996)
Osteomielitis adalah infeksi tulang yang biasanya disebabkan oleh bakteri, tetapi kadang-kadang disebabkan oleh jamur. (http://www.eMedicine.com/osteomielitis.html)
Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa osteomielitis adalah infeksi pada jaringan tulang yang sulit disembuhkan, disebabkan oleh bakteri atau jamur dan bersifat akut ataupun kronis.

B. Patofisiologi
Menurut Rasjad (1998),  Smeltzer (2002) dan Tucker (1998) osteomielitis biasanya disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan mikrorganisme lainnya. Pada anak-anak infeksi tulang seringkali timbul karena adanya penyebaran infeksi dari tempat lain seperti faringitis, otitis media dan impetigo. Bakterinya (Stapilococcus Aureus, Hemofilus Influenza) berpindah melalui aliran darah menuju metafisis tulang didekat lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir ke dalam sinusoid. Akibat proses perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan yang terbatas ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan.
A.Konsep Dasar Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan yaitu tuba muskular panjang yang merentang dari mulut sampai anus, dan organ-organ aksesoris, seperti gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kandung empedu dan pankreas. Saluran pencernaan yang terletak dibawah area diafragma disebut saluran gastrointestinal (Sloane, 2004 ; 281)
Saluran pencernaan merupakan jalur (panjang totalnya 23-26 kaki) yang berjalan dari mulut melalui esofagus, lambung, usus dan anus.
(Smeltzer, 2002 ; 984)
Fungsi utama dari saluran gastrointestinal yang berhubungan dengan memberikan kebutuhan tubuh yaitu :
-    Memecahkan partikel makanan ke dalam bentuk molekuler untuk dicerna
-    Mengabsorbsi hasil pencernaan dalam bentuk molekul kecil ke dalam aliran darah.
-    Mengeliminasi makanan yang tidak tercerna dan terabsorbsi dan produk sisa lain dari tubuh.
(Smeltzer, 2002 ; 984)

Susunan saluran pencernaan terdiri dari: oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus) terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum, intestinum mayor (usus besar) terdiri dari sekum, kolon asendens, kolon transversum, kolon desendens dan kolon sigmoid, rektum dan anus. (Syaifuddin, 1997 ; 75).

A. Pengertian
Pada sub bab ini penulis akan mengemukakan beberapa pengertian tentang batu ginjal. batu ginjal atau kalkulus adalah batu yang dibentuk di dalam saluran kemih oleh kristalisasi dari substansi ekskresi di dalam urine (M.Nurs, 2007 ).

Batu ginjal/kalkulus adalah  bentuk deposit mineral, paling umum oksalat Ca2+ dan Fosfat Ca2+, namun asam urat dan kristal juga pembentuk batu (Doenges, 2000)

Batu saluran kemih  adalah suatu kelainan yang ditandai dengan ditemukannya batu di mana saja di saluran kemih (www.waspada.co.id, 2007)

Dari ketiga definisi di atas penulis dapat menyimpulkan  batu ginjal adalah   ditemukannya batu pada saluran kemih mulai dari ginjal sampai dengan kandung kemih, dimana batu terbentuk karena adanya mineral ; seperti : oksalat fosfat, asam urat  dan kristal lain dari substansi ekskresi di dalam urine
A. Pengertian.
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penyakit yang disebabkan oleh trauma atau perubahan degeneratif yang menyerang massa nukleus pada daerah vertebra L4-L5, L5-S1, atau C5-C6 yang menimbulkan nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh). ( Doenges, 1999).

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah menonjolnya nukleus dari diskus ke dalam anulus (cincin fibrosa sekitar diskus) dengan akibat kompresi saraf. ( Smeltzer, 2001).

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah herniasi atau penonjolan keluar dari nukleus pulposus yang terjadi karena adanya degenerasi atau trauma pada anulus fibrosus.
( Rasjad, 2003).

Herniasi adalah suatu proses bertahap yang ditandai dengan serangan-serangan penekanan akar syaraf (yang menimbulkan berbagai gejala dan periode penyesuaian anatomik). ( Price, 2005).
Nukleus Pulposus adalah bantalan seperti bola dibagian tengah diskus (lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra). (Smeltzer, 2001).

Dari beberapa pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah penyakit yang disebabkan oleh proses degeneratif atau trauma yang ditandai dengan menonjolnya nukleus pulposus dari diskus ke dalam anulus yang menimbulkan kompresi saraf sehingga terjadi  nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).
           A.    Anatomi Dan Fisiologi Sistem Urogenital
     1.      Uretra
Uretra merupakan tabung yg menyalurkan urine keluar dari buli-buli melalui proses miksi. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, dan sfingter uretra skterna yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Pada saat buli-buli penuh sfingter uretra interna akan terbuka dengan sendirinya karena dindingnya terdiri atas otot polos yang disarafi oleh sistem otonomik. Sfingter uretra ekterna terdiri atas otot bergaris yang dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang. Pada saat kencing sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat menahan kencing.
Secara anatomis uretra dibagi menjadi dua bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Kedua uretra ini dipisahkan oleh sfingter uretra eksterna. Panjang uretra wanita ± 3-5 cm, sedangkan uretra pria dewasa ± 23-25 cm. Perbedaan panjang inilah yang menyebabkan keluhan hambatan pengeluaran urine lebih sering terjadi pada pria. Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Dibagian posterior lumen uretra prostatika terdapat suatu benjolan verumontanum, dan disebelah kranial dan kaudal dari veromontanum ini terdapat krista uretralis. Bagian akhir dari pars deferens yaitu kedua duktus ejakulatorius terdapat dipinggir kiri dan kanan verumontanum, sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus prostatikus yang tersebar di uretra prostatika.
Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis. Uretra anterior terdiri atas pars bulbosa, pars pendularis, fossa navikulare dan meatus uretra eksterna.
Di dalam lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang berfungsi dalam proses reproduksi, yaitu kelenjar Cowperi berada di dalam diafragma urogenitalis bermuara di uretra pars bulbosa, serta kelenjar littre yaitu kelenjar parauretralis yang bermuara di uretra pars pendularis.
(Purnomo, 2000, hal 6)
Konsep diagnostik pada mulanya muncul dalam bidang medis (kesehatan). Diagnostik dilakukan oleh ahli medis terhadapa penyakit yang diderita oleh para pasienya. Diagnostik dilakukan untuk mencari dan menganailisa serta medapatkan hipotesa (dugaaan sementara) terkait dengan penyakit yang dialami oleh para pasiennya.
Berbagai pemeriksaan komponen sistem imun telah dapat dikerjakan di laboratorium. Ada pemeriksaanyang mutlak untuk diagnostik,ada pemeriksaan yang diperlukan untuk memantau penyakit.
Dalam kamus bahasa Inggris diagnostik itu dapat diartikan yang mendasarkan diagnosa. Barang kali kita akrab dengan kata tersebut terutama dalam dunia media atau kesehatan.
Diagnostik menurut istilah adalah proses yang dilakukan oleh seseorang dalam mengamati sesuatu hal yang mendasari adanya atau terjadinya sesuatu hal. Artinya diagnostik itu adalah proses. Dilakukan dalam rangka mengamati, menganalisis, lalu mengidentifikasi dan mengolah data.
Adapun menurut Thorndike dan heagen diagnostik dapat diartikan sebagai:
1. upaya untuk proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symptons).
2. studi yang seksama terhadap fakta tentang sesuatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan dan sebagainya yang esensial.
3. keputusan yang dicapai setelah dialkukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau fakta tentang sesuatu hal.
 BAB I
PENDAHULUAN

            A.     Latar Belakang

Anemia adalah salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil ataupun orang tua. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena perdarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik.
Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik penderita tampak pucat, lemah, dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal.


B.     Tujuan

  1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan anemia
  1. Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu mengetahui pengertian anemia.
b.      Mahasiswa mampu menyebutkan penyebab anemia.
c.       Mahasiswa mampu mengetahui diagnosa-diagnosa yang mungkin muncul pada pasien anemia.
d.      Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan pada pasien dengan anemia.


2 cara kegel / pelvic floor exercise:
I.          Latihan dengan cara perlahan-lahan
1.   Posisi pasien duduk atau berdiri dengan nyaman dengan lutut sedikit renggang.
2.   Arahkan pasien mencoba untuk menekan otot-otot dasar panggul seolah-olah sedang berusaha untuk menahan buang angin dan menahan buang air seni.
3.   Usahakan pasien tidak menggunakan otot perut, paha atau pantat ketika sedang lakukan latihan ini.
4.   Bila pasien dapat menekan kedua-duanya bersamaan sedapatnya, dan mampu untuk menahan selama sebatas kemampuannya sampai sepuluh detik. Kemungkinan untuk gerakan yang kedua, ketiga atau selanjutnya pasien tidak mampu untuk pertama kalinya.
5.   Ulangi ini sesering mungkin sampai sepuluh kali, tetapi harus ada jeda istirahat antara gerakan satu dengan yang berikutnya empat sampai lima detik.

II.         Latihan dengan cara cepat
1.   Latihan cepat sama caranya dengan latihan lambat (perlahan).
2.   Saat pasien menekan otot-otot dasar panggul, perintahkan pasien untuk melepaskan/ merilekskan dengan seketika sehingga pasien hanya merasakan pengangkatan yang sangat cepat pada dasar panggulnya.
3.   Ulangi latihan ini setiap saat semampu pasien. Kalau bisa sampai sepuluh kali.
4.   Lakukan kedua gerakan ini (gerakan lambat dan cepat) sedikitnya empat kali sehari, tetapi sepuluh kali sehari jika bisa.
5.   Jangan melakukan latihan bila terjadi nyeri pada otot dasar panggul.
 DEFINISI
  1. Demam rematik (DR) adalah sindroma klinik akibat infeksi kumam streptococcus beta hemolytikus grup A, dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu poliartritis migrant akut, karditid, korea minor, nodul subkutan atau eritema marginatum.

  1. Demam rematik akut (DRA) adalah istilah untuk penderita demam rematik yang terbukti dengan tanda radang akut.

  1. Deamam rematik inaktif adalah istilah untuk penderita dengan riwayat demam rematik tetapi tanpa terbukti tanda radang akut.

  1. Penyakit jantung ramatik (PJR) adalah kalainan jantung yang ditemukan pada DRA atau kelainan jantung yang merupakan gejala sisa (skuele) dari DR.
            (Ngastiyah, 2005, Edisi II, Perawatan Anak Sakit, Jakarta, EGC)

ETIOLOGI
Streptococcus beta hemolytikus grup A starin tertentu yang bersifat reumatoligik dan adanya factor fredisposisi genetic.
Kemungkinan menderita DRA setelah mendapat infeksi steptococcus hemolytikus  grup A di tenggorokan adalah 0,3 – 3 %.

Selamat Datang


Terima kasih atas kunjungannya di blog kami puskesmas tumpung laung, mudah-mudahan blog ini bisa menjadi inspirasi bagi puskesmas lainnya di kota muara teweh agar bisa berkreatif dalam mengembangkan Instansinya.

Buku Tamu

Teman