Sabtu, 11 Juni 2011
Laporan Pendahuluan

I.       Pengertian
Epilepsi merupakan suatu keadaan dimana penderitanya mendadak tidak sadarkan diri dan jatuh, yang disertai dengan badan manjadi kaku, dan disusul oleh gerakan-gerakan seluruh badan / tubuh. Muka menjadi biru, pernafasan tidak teratur, dari mulut keluar busa. Semua gejala tersebut merupakan gangguan fungsi pada sekelompok sel-sel saraf (neuron) di otak (Kapita Selekta).

II.    Etiologi
a.       Penyebab yang tidak diketahui (idiophatic epilepsy) yang memegang peranan penting disini adalah faktir keturunan (herediter).
-         Bila salah satu orang tua epilepsi ® resiko pada anak 4 %
-         Kedua orang tua ® resiko pada anak 20 – 30 %
(Bahan Ajar Persyarafan Dr. Jimmy Sabirin, Sps)

b.      Penyebab yang diketahui (symptomatic epilepsy), misalnya:
1.      Penyebab yang berasal dari dalam otak (intra kranial)
Misalnya:
-         Tumor otak
-         Abses otak
-         Perdarahan otak
-         Infeksi otak

2.      Penyebab yang berasal dari luar otak (ekstra kranial)
Misalnya:
-         Hipoksia serebsi (kekurangan O2 pada otak)
-         Gangguan keseimbangan elektrolit
Berikut ini faktor-faktor yang mempermudah timbulnya serangan epilepsi: (Bahan Ajar Persyarafan Dr. Jimmy Sabirin, Sps)
-         Terlalu capek
-         Kurang tidur / istirahat
-         Terlambat makan (turunnya kadar gula darah)
-         Stress (pikiran tegang)
-         Febris
-         Lampu berkedip-kedip (cahaya)

Menurut penelitian beberapa ilmuan, penyebab epilepsi dibagi 6 kelompok besar, yaitu:
(epilepsi / ayan oleh Lumban Lumbang Tobing, SN)
1.      Obat-obatan
Racun, alkohol dan obat yang diminum secara berlebihan.
2.      Ketidak seimbangan kimiawi : Hiperkalemia, Hiperglikemia, Asidosis.
3.      Demam : Paling sering terjadi pada usia anak-anak.
4.      Patologis otak akibat cidera kepala, trauma, infeksi dan peningkatan tekanan intrakarnial.
5.      Eklamsia : Hipertensi prenatal / toksemia saat kehamilan.
6.      Idiopatik : Penyebab tidak diketahui

III. Manifestasi Klinis (Askep Persyarafan)
Tanda-tanda dan gejala pada penderita dengan epilepsi di bagi:
1.      Sawan parsial (berasal dari daerah tertentu dalam otak)
-         Sawan parsial, sederhana, ditandai dengan :
a.       Keadaan tetap
b.      Motorik lokal yang menjalar, tanpa menjalar (gerakan klonik, dari jari tangan, lalu menjalar ke tangan bawah / atas dan keseluruhan tubuh)
c.       Gerakan versif kepala dan leher
d.      Dapat pula sebagai gejala sensorik berupa halusinasi sederhana
e.       Terkadang berupa defisit neurologik yaitu kelumpuhan

-         Sawan parsial kompleks
a.       Adanya gangguan kesadaran
b.      Gangguan sikis ( gangguan fungsi kultur)
c.       Disfasia (tidak kenal dengan peristiwa yang pernah di alaminya). Keadaan seperti mimpi (dreay state), ilusi halusinasi, sederhana dan komplek.

2.      Sawan umum (seluruh bagian otak bersamaan)
-         Sawan umum tonik-tonik, ditandai dengan:
a.       Kehilangan kesadaran, disusul dengan gejala motorik bilateral
b.      Gerakan klonik sinkron dari otot-otot tubuh

-         Sawan mioklonik, ditandai oleh kontraksi otot-otot tubuh secara tetap, sinkron dan bilateral atau kadang-kadang hanya mengenai sekelompok otot tertentu.

-         Sawan tena, ditandai oleh:
a.       Kehilangan kesadaran yang berlangusng sangat singkat
b.      Gerakan mioklonik dari sekelompok otot mata atau wajah
c.       Kehilangan tonus otot

-         Sawan atonik, ditandai dengan kehilangan tonus otot secara mendadak pada kelompok otot tertentu.

IV.  Patofisiologi (Lumbang Tobing, SN. 1994. Epilepsi / ayan)
 I.       Pemeriksaan Diagnostik (Doenges, Marylinn, E. dkk. 1999. Asuhan Keperawatan)
1.      Elektrolit, tidak seimbang dapat berpengaruh atau menjadi predisposi pada aktivitas kejang.
2.      Glukosa, Hipoglikemia dapat menjadi presipitasi kejang.
3.      Ureum / kreatinin sebagai indikator nefrotoksik yang berhubungan dengan pengobatan.
4.      Sel darah merah.
5.      Kadar obat pada serum.
6.      Fungsi lumbal mendeteksi tekanan abnormal dari GCS tanda-tanda infeksi perdarahan.
7.      Foto rintgen kepala untuk mengidentifikasi sel struktur.
8.      CT-Scan, mengidentifikasi letak lesi serebral, infrak, hematoma edema serebral, taruma, abses, tumor dan dapat dilakukan dengan atau tanpa kontras.
9.      Pemantuan video. EEC, 24 jam untuk mengidentifikasi kejang.
10.  Magnetik Resonanse Imaging (MRI).

II.    Penatalaksanaan Medis (therapy) (Doenges, Marylinn, E. dkk. 1999. Asuhan Keperawatan)
Pada sindrome epileptik, obat anti epileptik yang dipakai bertujuan memperbaiki kualitas hidup penderita dengan mengurangi frekuensi tanpa menimbulkan efek samping yang tidak dihendaki. Pada orang dewasa karbon azepin dan difenilhidartion dapat dipakai pada pengobatan awal pada sindrome epileptik dengan parsial. Fenobarbital bermanfaat untuk sindrom, epileptik degan tonik-tonik sawan parsial.



Obat yang bermanfaat untuk berbagai tipe sawan dapat dilihat pada bagan berikut ini:

      Tipe                                                                             Obat yang efektif
1.      Parsial
a.       Parsial sederhana                                                    FB, DFN, KZ
b.      Parsial kompleks                                                    FB, DFN, KZ
c.       Parsial skunder                                                       FB, FH, KZ

2.      Umum
a.       Lena                                                                       ETS, AVP
b.      Mioklonik                                                               ETS, AVP
c.       Tonik-tonik                                                            AVP, FB, DFN, KZ
d.      Atonik                                                                    ETS, AVP

Keterangan:
-         Fenobarbital (FB
-         Karbamazapene (KZ)
-         Difenilat dartion (DFN)
-         Asam Valporat (AVP)
-         Etosuksimid (ETS)

III.             Diagnosa Keperawatan (Doenges, Marylinn, E. dkk. 1999. Asuhan Keperawatan)
1.      Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kesulitan emosional, perubahan kesadaran.
2.      Pola nafas tidak efkatif berhubungan dengan kerusakan neuromaskuler obstruksi trakeo bronkial, kerusakan persepsi tidak terkontrol.
3.      Gangguan identitas pribadi berhubungan dengan persepsi tidak terkontrol.
4.      kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kesalahan interprestasi informasi, kurang mengingat

Diagnosa Keperawatan I
Resiko tinggi trhadap trauma berhubungan dengan kesulitan emosional, perubahan kesadaran.
Tujuan:
-         Mengungkapkan pemahaman faktor yang menunjang kemungkinan trauma.
-         Mendemonstrasikan perilaku, perubahan gaya hidup untuk mengurangi faktor resiko dan melindungi diri dari cidera.
-         Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.

Intervensi:
-         Gali bersama-sama pasien dengan berbagai stimulus yang dapat menjadi pencetus kejang.
-         Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah.
-         Evaluasi kebutuhan untuk perlindungan pada kepala
-         Pertahankan tirah baring secara ketat jika pasien mengalami tanda-tanda dan timbulnya fase prodnormal.
-         Catat tipe dari aktivitas kejang.

Rasionalisasi:
-         Alkohor berbagai obat dan stimulasi lain (seperti kurang tidur, lampu yang terlalu terang, menonton, epilepsi terlalu lama) dapat meningkatkan aktivitas otak, yang selanjutnya meningkatkan aktivitas otak (kejang).
-         Mengurangi trauma saat kejang (sering / umum) trjadi selama pasien berada di tempat tidur.
-         Pemberian tutup kepala dapat memberikan perlindugan tambahan trehadap seseorang yang mengalami kejang terus-menerus.
-         Membantu klien beristirahat dan lepas dari fase promodiomal.
-         Mambantu untuk melokalisasi daerah otak yang terkena

Diagnosa Keperawatan 2
Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kerusakan neuromaskuler obstruksi trakeobronkial kerusakan persepsi / kognitif.
Tujuan:
-         Kebutuhan suplai O2 terpenuhi

Kriteria hasil:
-         Mempertahankan pola pernafasan efektif dengan jalan nafas paten aspirasi di cegah.

Intervensi
-         Anjurkan pasien untuk mengosongkan mulut dari benda lain seperti gigi palsu / alat lainnya jika terjadi kejang.
-         Letakkan klien pada posisi miring, miringkan kepala selama serangan kejang.
-         Tanggalkan pakaian pada leher / dada dan abdomen.
-         Masukkan spatel lidah / jalan nafas bantuan atau golongan benda lunak sesuai dengan indikasi.
-         Lakukan penghisapan sesuai indikasi.
-         Berikan tambahan O2 / ventilasi manual dengan kebutuhan fase posistal.

Diagnosa Keperawatan 3
Gangguan indentitas pribadi berhubungan dengan persepsi tidak terkontrol
Tujuan:
-         Gangguan identitas pribadi teratasi.
Kriteria hasil:
-         Mengidentifikasi keadaan dengan metode untuk koping dengan persepsi pada diri sendiri.
-         Mengungkapkan peningkatan rasa harga diri dalam tubuhnya dengan diagnosis.
-         Mengungkapkan persepsi realitas dan penerimaan diri dalam perubahan peran / gaya hidup.

Intervensi:
-         Diskusikan perasaan klien mengenai diagnostik persepsi diri. Anjurkan untuk mengekspresikan perasaannya.
-         Identifikasi kemungkinan reaksi orang lain terhadap penyakitnya. Anjurkan klien untuk merahasiakan masalahnya.
-         Gali bersama klien mengenai keberhasilan yang pernah dan akan dicapai.
-         Ajarkan aktivitas dengan memberikan pengawasan / memantau jika ada indikasi.
-         Tekankan pentingnya keadaan tenang selama kejang.
-         Rujuk klien pada tempat pelayanan kesehatan terdekat.

Rasionalisasi:
-         Membantu klien untuk menerima keadannya.
-         Memberikan kesempatan untuk merespon pada proses pemecahan masalah.
-         Memfokuskan pada aspek yang positif, memberikan motivasi dan melupakan penyakitnya.
-         Partisipasi dengan sebanyak mungkin pengalaman dapat mengurangi depresi tentang keterbatasan.
-         Ansietas dari pemberi asuhan akan menjalar dan bila sampai pada klien dapat meningkatkan persepsi begatif terhadap keadaan lingkungan / diri sendiri.
-         Memberikan kesempatan untuk mendapatkan dukungan, informasi dan ide-ide mengenai penyakitnya.

Diagnosa Keperawatan 4
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan berhubungan dengan kesalahan informasi, kurang meningkat.
Tujuan:
-         Klien memahami kondisinya dan penyakitnya.

Kriteria Hasil:
-         Mengungkapkan pemahaman tentang gangguan dan berbagai rangsangan yang dapat meningkatkan atau berpotensial pada aktivitas kejang.
-         Memulai perubahan perilaku atau gaya hidup sesuai indikasi.
-         Mentaati aturan obat yang diresepkan.

Itervensi:
-         Jelaskan kembali tentang patofisiologi dan proshosis penyakit.
-         Diskusikan mengenai efek samping secara khusus seperti mengantuk hiper aktif atau gangguan tidur, hipertrof gusi.
-         Berikan informasi tentang interaksi obat yang potensial dan pentingnya untuk memberi tahu mengenai pemberian perawatan lainnya.
-         Bicarakan kembali kemungkinan efek dari perubahan hormonal.
-         Identifikasi perlunya atau meningkatkan penerimaan terhadap keterbatasan, diskusikan tindakan keamanan yang diperhatikan saat mengemudi, berang atau kegiatan lain.

Rasionalisasi:
-         Memberikan kesempatan untuk mengklasifikasikan kesalahan persepsi dan keadaan penyakit.
-         Dapat mendiskusikan kebutuhan akan perubahan dalam dosis atau obat anti epilepsi.
-         Pengetahuan mengenai penggunaan obat anti konvulsan menurunkan resiko obat yang diresepkan dan memiliki efek therapentik.
-         Gangguan kadar hormonal dapat meningkatkan resiko kejang.
-         Menurunkan resiko trauma oleh diri sendiri dan orang lain terutama jika kejang terjadi tanpa diawali oleh tanda-tanda peningkatan tertentu.

 
Daftar Pustaka


Donges, Maryillinn, E.dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran Edisi 6 C.

Harsono. 1993. Kapita Selekta Neurologi. Jogyakarta: Gajah Mada University Press.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Pahria, Tuti, ddk. 1994. Askep Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Persyaratan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran Edisi 6 C.

Tobing, Lumbah, SN. 1994. Epilepsi (Ayan). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Selamat Datang


Terima kasih atas kunjungannya di blog kami puskesmas tumpung laung, mudah-mudahan blog ini bisa menjadi inspirasi bagi puskesmas lainnya di kota muara teweh agar bisa berkreatif dalam mengembangkan Instansinya.

Buku Tamu

Teman